HIDUP DALAM KEMULIAAN, DAN MATI SYAHID-DIJALANNYA
Home » » Demokrasi Yang memBingung-kan~>>

Demokrasi Yang memBingung-kan~>>

Selasa, 28 Mei 2013 | 0 komentar

Tentu kita sepakat bahwa demokrasi bukanlah tujuan, meskipun bukan hanya cara semata. Untuk apa kita berkumpul dalam suatu wilayah negara jika tujuannya hanya untuk berdemokrasi. Kita berkumpul, bekerjasama, dukung-mendukung untuk kehidupan yang sejahtera: aman, tertib, tentram, nyaman, adil, makmur, terdidik, dan tentu saja sehat jasmani dan rohani.


Adakah sistem politik demokrasi yang telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, khususnya dalam prakteknya di negara-negara sedang berkembang? Mungkin ada, tapi jelas sangat langka, barangkali Botswana di Afrika satu-satunya negara sedang berkembang yang disebut-sebut berhasil menerapkan demokrasi menuju kesejahteraan rakyat. Sebagian besar negara-negara sedang berkembang gagal mempraktekkan demokrasi. Lebih banyak kemakmuran yang menghadirkan demokrasi ketimbang demokrasi yang menghadirkan kemakmuran.

Kita terus berdebat tentang demokrasi. Teori demokrasi kita aduk-aduk, dari Tocqueville, Samuel Huntington, Herbert Feith, Harry J. Benda, Adnan Buyung dan lain-lain hingga teori demokrasinya mbah Aristoteles, tetap saja kita masih bingung dan gagap menyelenggarakan demokrasi. Jangan-jangan demokrasi hanya sejenis mantra sihir purba. Sejenis isu yang terus dihembus-hembuskan iblis di setiap pemimpin, elite politik dan akademisi di banyak negara. Dan manusia percaya ada kebaikan yang bernama demokrasi. Meskipun sesungguhnya belum pernah terbukti kebaikannya, kecuali sedikit saja. Jangan-jangan demokrasi hanya angan-angan kosong. Cita-cita yang tak akan pernah tergapai.

Betapa membingungkan demokrasi itu, antara lain dapat dicari hikmahnya dari kisah Luqmanul Hakim (Luqman Nan Bijak) berikut ini: Alkisah Luqman bermaksud memberi pelajaran kepada anaknya betapa pendapat orang banyak lebih sering membingungkan daripada menenangkan pikiran. Maka berangkatlah mereka menuju pasar, dimana orang banyak berkumpul dengan membawa seekor keledai sebagai alat transportasinya. Sang anak naik keledai, Luqman sang bapak berjalan kaki menuntun keledai. Melihat situasi ini orang-orang di pasar berkomentar, “Anak kurang ajar, enak-enakan naik keledai, sementara bapaknya dibiarkan berjalan kaki dan menuntun keledai!” Mendengar komentar ini, sang anak turun dan mempersilahkan bapaknya naik keledai, dan sang anak berjalan kaki sambil menuntun keledai. Orang-orang segera berkomentar, “Orang tua tak berperasaan, anaknya disuruh berjalan kaki dan menuntun keledai, sementara dia ongkang-ongkang naik keledai” Mendengar komentar ini, Luqman mempersilahkan anaknya naik keledai sehingga mereka berdua sekarang naik keledai. Maka orang-orang pun berseru, “Dasar manusia-manusia biadab tak punya hati nurani, keledai sekecil itu ditumpangi dua orang”. Maka mereka berdua turun berjalan kaki, sehingga keledainya sekarang tak berpenumpang. Melihat ada keledai cuma dituntun saja tidak ditumpangi, orang-orang di pasar pun berkomentar, “Dasar manusia-manusia dungu, keledai dibiarkan menganggur tidak ditumpangi”.

Demokrasi sulit ditebak. Sulit dijinakkan. Bahkan negara ‘kiblat’ demokrasi, seperti Amerika Serikat, sering juga kehilangan watak demokratnya. Demi alasan penegakan demokrasi di muka bumi, Amerika Serikat menginvasi Irak, Afganistan diluluh-lantakkan, Vietnam diobrak-abrik dengan bom, granat, dan bedil. Beribu-ribu manusia terbunuh atas nama demokrasi – sebuah ironi, karena konon demokrasi adalah pembela hak-hak dasar manusia. Lalu, jika demikian, apa bedanya demokrasi dengan totalitarianisme?

Maka, jangan-jangan demokrasi hanya suara-suara desah mantra anak-anak iblis yang dibisik-bisikkan di telinga para pemimpin negara dan para elite politiknya. Negara tetangga kita terdekat, Singapura – dulu semasa rezim Lee Kwan Yew – dan Malaysia dibawah rezim Mahathir, toh santai-santai saja menerapkan otoritarianisme. Dan mereka lebih teratur, tertib dan ekonominya tumbuh dengan baik. Rakyatnya lebih makmur. Dan Amerika Serikat serta negara-negara Barat pro-demokrasi lainnya senang-senang dan tenang-tenang saja.

Kita terus ribut soal kulit, lupa mengolah isi. Kita bertengkar soal baju, gincu, dan bedak apa yang akan kita pakai, sampai lupa tujuan kita hendak ke mana. Boleh jadi Deng Xiao-ping, pemimpin Cina itu, benar pernyataannya tentang sistem politik, ‘Tidak penting kucing itu hitam atau putih, yang penting dia bisa menangkap tikus’. Tak penting mau pakai demokrasi, otoritarianisme, totalitarianisme, monarki, aristokrasi, atau ‘krasi-krasi’ lainnya, yang penting negara bisa menyejahterakan rakyatnya: hidup rukun, adil, makmur, tertib, aman sentosa. (Bogor, 2009)

Disadur dari "Jamaah Maiyah" Cak Nun
Oleh: Heru Yuwono
Share this article :
0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda
 
Support : Creating Website Copyright © 2011. DAAR AL-ARQOM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger