HIDUP DALAM KEMULIAAN, DAN MATI SYAHID-DIJALANNYA
Home » » DEMOKRASI SERBAN~~>>

DEMOKRASI SERBAN~~>>

Selasa, 28 Mei 2013 | 0 komentar

DEMOKRASI SERBAN

Mungkin karena proses demokratisasi, sekarang tidak ada ikatan simbolik serta ikatan maknawi apa pun antara pakaian dan pemakainya. Teman-teman saya, yang sehari-hari berpakaian modern atau Barat, yang berprofesi sebagai pengusaha dan mengisi malam-malamnya di pub atau diskotek, pada malam takbiran bisa tiba-tiba memakai pakaian sambung atas-bawah putih, kepalanya dibungkus dengan lipatan kain, sebagaimana layaknya seorang ayatullah. Di pundaknya tersampir kain serban yang biasanya dipakai para ulama, ustad, habib, atau orang mulia lainnya. Lebih dari itu, ia juga bisa turut naik panggung takbir nasional, dan beriringan dengan presiden, wakil presiden, serta tokoh-tokoh kemasyarakatan dan keagamaan lainnya.

Dulu, "kaum sarungan" berarti umat Islam. Sekarang tidak lagi. Siapa pun berhak memakai sarung. Selama beberapa dasawarsa, orang menyangka bahwa peci identik dengan kemusliman atau kesantrian, tapi sekarang tidak lagi. Teman-teman saya yang beragama Budha, Hindu, Katolik, Protestan, atau penganut aliran kepercayaan, bahkan yang ateis, bisa pada suatu sore menjumpai Anda dengan memakai peci -umpamanya untuk menghiasi penampilannya di layar televisi.

Sekarang, memilih dan memakai jenis kostum tidak harus melalui perjuangan akidah, perjuangan sosio-kultural, atau perjuangan psikologis yang panjang dan ruwet. Ada banyak wanita yang setengah mati memutuskan untuk mulai memakai jilbab, karena hal itu merupakan "revolusi sosial" bagi eksistensi pribadinya. Sekarang, siapa pun bisa mendadak memakai jilbab, yang bukan hanya menutupi kepala dan badannya, melainkan juga mewah dan modis.

Siapa pun bisa tiba-tiba memakai busana muslimah dan satu jam kemudian menanggalkannya, menggantikannya dengan rok yang sangat pendek atau celana ketat. Sebab, busana muslimah memang diperlukannya untuk kostum sebagai presenter dalam acara di televisi.

Di berbagai pementasan, Rendra memakai bermacam-macam kostum. Terkadang berkostum Hamlet yang bernuansa Eropa klasik, pada saat lain sebagai Panembahan Reso yang Jawa, dan dalam lakon lainnya berpakaian kiai karena sedang mementaskan lakon Kasidah Barzanji.

Rendra berhak -bahkan harus- memakai itu, sebab dalam lakon ia bukan Rendra, melainkan Hamlet, Panembahan Reso, atau Raden Sudrajat. Artinya, ada konteks, keterkaitan, serta historisitas antara kostum dan eksistensi pemakainya, meskipun eksistensi itu berlangsung hanya dalam lakon, dalam sandiwara, dan bukan dalam dunia nyata.

Demikian juga seandainya si pelawak di layar televisi memerankan Sunan Kalijaga dan si artis di-casting sebagai Rabiah al-Adawiyah. Meski demikian, lakon atau sandiwara apa yang selama sebulan penuh -ditambah dengan hari-hari Lebaran- dipentaskan di televisi, sehingga kita menjumpai banyak tokoh- tokoh yang kostumnya bagaikan Syekh Al-Azhar, bagaikan Ayatullah Muthahhari, dan bagaikan Sunan Ampel? Bahkan, si "ayatullah" besok malamnya berubah menjadi "syekh", dan si "syekh" pada waktu mengantarkan sahur menjelma menjadi "sunan".

Sejauh pengetahuan saya, di antara sekian ratus acara-acara Ramadhan di televisi, hampir tidak ada satu pun yang berbentuk sandiwara, drama, tonil, atau teater, kecuali sejumlah film impor dari Timur Tengah. Jadi, sandiwara apa yang sesungguhnya mereka lakonkan?

Kalau melihat nama-nama yang ditampilkan, jelas bahwa itu nama- nama asli mereka. Jadi, pasti mereka tidak sedang membawakan peran apa pun dalam suatu pentas sandiwara di panggung televisi.

Ataukah lakon sandiwara itu dipentaskan tidak di panggung televisi, melainkan di panggung kehidupan yang sebenarnya?

Apa gerangan namanya, sebutannya, atau rumusannya, kalau kita bersandiwara di dalam kehidupan nyata? Berpura-pura? Berbohong? Mendustai penonton dan menipu diri sendiri? Atau, itukah yang dirumuskan Rasulullah Muhammad SAW sebagai idza haddatsa, salah satu ciri kemunafikan? Jika berbicara, ia dusta?

Orang "berbicara" tidak hanya dengan kata-kata, tidak hanya menggunakan mulutnya, melainkan juga lewat ekspresi wajahnya, mimik mukanya, lagak serta geraknya, dan juga melalui pakaiannya.

Kalau seseorang tampil telanjang bulat menyusuri pinggiran jalan raya, sesungguhnya yang ia "bicarakan" adalah bahwa ia gila. Kalau seseorang berpakaian putih tanpa jahitan, ia sedang memberitahukan kepada Tuhan, orang lain, dan dirinya sendiri bahwa ia sedang berihram. Kalau orang memakai celana pendek, kaus bernomor punggung, dan sepatu tertentu, semua yang melihatnya bisa melihat dan "mendengar" bahwa orang itu hendak bermain sepak bola. Tak mungkin ia akan pergi ke kantor, mau pergi ke pesta, atau hendak bertawaf di seputar Ka'bah.

Ada hubungan akal sehat antara pakaian dan pemakainya. Ada tanggung jawab intelektual, ada komitmen moral, serta ada historisitas nilai yang gamblang antara kostum dan manusia yang mengenakannya.

Kalau tidak ada hubungan, tanggung jawab, dan komitmen itu, kemungkinannya ada tiga. Pertama, si pemakai tak menggunakan akalnya. Kedua, si pemakai berdusta. Ketiga, si pemakai tak mengerti apa yang dilakukannya dan ia tak mengerti bahwa ia tidak mengerti.

Dan jika seluruh masyarakat menerima siapa pun memakai sesuatu, tanpa menuntut keterkaitan antara kostum dan pemakainya, maka katakan kepada dirimu sendiri: "Untuk apa engkau pakai peci, toh peci tidak melambangkan apa-apa yang berkaitan dengan kesalehan. Untuk apa engkau memakai sarung dan serban, toh siapa saja bisa memakainya tanpa ada kaitannya dengan tanggung jawab moral atau pemaknaan nilai apa pun dalam hidupnya."

Bahkan, Anda bisa mengenakan busana nasional yang berlabel "Aku Cinta Rupiah" untuk menunjukkan bahwa selama ini Anda memang memiliki saham terhadap devaluasi rupiah karena menyimpan mata uang asing.

Emha Ainun Nadjib, Gatra Februari 1998
Share this article :
0 Komentar di Blogger
Silahkan Berkomentar Melalui Akun Facebook Anda
Silahkan Tinggalkan Komentar Anda
 
Support : Creating Website Copyright © 2011. DAAR AL-ARQOM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger