HIDUP DALAM KEMULIAAN, DAN MATI SYAHID-DIJALANNYA

Mendakwahi Fir'aun Saja, Allah Perintahkan Berkata Lembut..

Rabu, 15 Oktober 2014 | 0 komentar

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Berlemah-lembut dan tidak berkata kasar salah satu akhlak mulia yang sangat diagungkan Islam. Ini akan membantu terciptanya suasana harmonis dalam masyarakat muslim. Apalagi bagi para dai dan pemberi nasihat, keduanya sangat membantu tugas mereka dalam mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Sebaliknya sikap kasar, galak, suka mencela, dan mudah menyematkan gelar sesat terhadap objek dakwah (saudara yang akan disadarkan) malah akan menimbulkan penolakan dan perlawanan. Karenanya tepat sekali apa yang disabdakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ, وَمَا كَانَ الْعُنْفُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.” (HR Muslim)

Sikap lemah lembut, tutur kata santun, penuh adab, dan tanpa sikap kasar dan tanpa arogan merupakan hikmah dari sunnatullah dalam mencipta dan memerintah serta tuntutan dalam mengimani nama Allah Al-Rafiiq; artinya: Mahalembut, Mahabaik, dan Mahamenyertai.

Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ “

Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala Mahalembut dalam perbuatan-Nya, yaitu ketika Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan bertahap, sedikit demi sedikit sesuai dengan hikmah dan kelembutan-Nya. Padahal Dia mampu menciptakannya sekaligus, dalam waktu sekejap.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga Mahalembut dalam memerintah dan melarang. Dia tidak membebani hamba-Nya dengan beban-beban yang banyak secara sekaligus. Tapi, berangsur-angsur dari satu kondisi kepada kondisi yang berikutnya sehingga jiwa siap menanggungnya dan tertata emosinya. Hal itu seperti turunnya perintah puasa fardhu, pengharaman khamar, riba dan lainnya.

Berarti bahwa orang yang melakukan sesuatu dengan kelembutan dan tenang telah mengikuti sunnatulah dalam menciptakan alam semesta dan mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

Perintah Berkata Lembut Mendakwahi Raja Thaghut ‘’Fir’aun’’

Al-Qur'an mengabadikan, saat Fir’aun sudah sampai pada puncak ketaghutan dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” maka Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkannya dan mendakwahinya seraya berpesan,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى “

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)

Yakni dengan bahasa yang mudah dipahami, halus, lembut, dan penuh adab tanpan sikap kasar, arogan, dan intimidasi dalam berkata atau bertindak brutal. Semoga dengan perkataan yang lembut ini dia jadi ingat dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya sehinga dia melaksanakannya atau takut dengan apa yang membahayakannya sehingga dia meninggalkannya. Kemudian Allah menerangkan tentang ucapannya tersebut,

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى () وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى “

Dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?".” (QS. Al-Naazi’aat: 18-19)

Itulah kalimat yang digunakan Musa dan Harun dalam mendakwahi Fir’aun, seorang thaghut yang kafir. Kenapa ada sebagian kaum muslimin yang mendakwahi dan menasihati kawannya dengan kalimat cela, mengkhawarijkan, menyesatkan, dan ungkapan-ungkapan buruk dan kasar lainnya? Apakah dia menginginkan mengeluarkan saudaranya dari keburukan ataukah sebaliknya, menginginkan keburukan tetap kukuh pada diri sahabatnya?

Berkatalah seorang shalih saat mendengar ayat ini, “Mahasuci Engkau wahai Rabb, apabila seperti ini sikap baik-Mu kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. Al-Naazi’aat: 24)

Maka bagaimana sikap baik-Mu kepada hamba yang mengucapkan, “Mahasuci Engkau Wahai Tuhanku yang Maha Tinggi.”

Jika ini adalah kelemahlembutanmu kepada kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38)

Lalu bagaimana kelemahlembutan-Mu terhadap hamba yang masih berucap Laa Ilaaha Illallaah (Tiada tuhan berhak disembah kecuali Allah)." Maka wahai para muwahhid, berlemah lembutlah dan berkatalah yang baik serta jangan gampang menyematkan gelar-gelar sesat kepada saudaramu yang tergelincir. Wallahu Ta’ala A’lam.
Continue Reading

Pria Jelek Biasanya Lebih Setia

| 0 komentar


Ini kabar gembira buat laki-laki bertampang pas-pasan, jelek atau mungkin merasa dirinya tidak tampan. Sebuah penelitian yang dilakukan University of Tennesse mengungkapkan fakta : laki-laki bertampang biasa jauh lebih setia dengan pasangannya. Kalau anda yang termasuk dalam kategori laki-laki seperti itu, tidak perlu berkecil hati. Harapan untuk mendapat istri atau pacar cantik dan keren, terbentang lebar. Penelitian tersebut juga menyarankan, tak perlu heran melihat begitu banyak wanita cantik menggandeng pria bertampang biasa, bahkan cenderung jelek. Pasangan ini ternyata malah justru bisa lebih bahagia dibanding wanita yang menikah dengan pasangan yang ganteng. Sebaliknya, laki-laki lebih bangga jika mengandeng perempuan cantik.
Para responden dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Tennese tersebut mengatakan, dalam perkawinan, para pria memang mendapatkan manfaat besar karena memiliki istri cantik. Sementara itu para istri mengaku memang mencari pasangan yang mendukungnya, meski kurang tampan.
Para ahli psikologi yang turut ambil bagian dalam proyek penelitian ini melibatkan 82 pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan dan sebelumnya berpacaran selama tiga tahun. Usia para responden sekitar pertengahan dua puluhan. Secara umum disimpulkan pasangan suami istri bersikap positif dan lebih adem ayem jika sang istri berwajah cantik. Sebaliknya wanita yang bersuamikan pria tampan justru kurang kompak satu sama lain. Tidak demikian, jika para laki-laki tampan menikahi wanita yang wajahnya standar. Mereka umumnya merasa kurang puas dengan perkawinannya. Tak heran jika dalam hal ini, berlaku pendapat rumput tetangga selalu lebih hijau.
“Pria memang lebih tertarik pada wanita yang cantik dan menarik, sedangkan wanita biasanya memilih pria yang tubuhnya lebih tinggi atau bergaji besar”, kata Dan Ariely, ahli manajemen dari Media Arts and Sciences an Sloan School of Management. Dalam perkawinan, pasangan yang sepadan bukanlah semata saat seseorang wanita cantik berjodoh dengan pria tampan. Namun lebih dari itu, sepadan berarti saat dua orang saling melengkapi.
Jadi, kelak kalau wajah yang tidak terlalu tampan laku keras, rasanya tulisan ini cukup menjelaskan mengapa bisa demikian.

Sumber : iwanagussugeng.wordpress.com
Continue Reading

Kisah nyata, Wanita bersuami dua dan satu selingkuhan

Selasa, 14 Oktober 2014 | 0 komentar


MasyaAllah,. Ini baru pertama kali terjadi, Pengadilan Negeri Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur menggelar perkara poliandri. Seorang wanita secara sah bersuami dua orang, hingga terlahir enam orang anak—empat anak dari suami  pertama dan dua anak lagi dari suami lainnya. Itu-pun, wanita ini masih menjalin cinta kasih secara gelap dengan lelaki lain lagi.  Adalah Bagus Putro Prabowo (30 tahun), warga Kecamatan Warujayeng Kabupaten Nganjuk yang membawa perkara ini ke pengadilan negeri setempat. Ia, melaporkan Mey Marlina (35 tahun), istrinya sendiri yang asli Kabupaten Ngawi, ke Kepolisian Resort Nganjuk. Perkara yang baru pertama terjadi, cukup rumit. Untuk pemberkasan perkara, Polisi hingga memerlukan waktu lebih dari delapan bulan, baru berhasil melimpahkan ke Kejaksaan.
Sekira enam tahun lalu (di tahun 2008),  Bagus Prabowo ketika itu bekerja di Jakarta bertemu dan berkenalan dengan Mey Marlina. Ketika itu, Mey Marlina mengaku masih lajang. Singkat kata, mereka saling jatuh cinta;  untuk melindungi jalinan cinta kasih agar tidak terperosok ke perzinahan, mereka sepakat untuk diikat dengan perkawinan secara siri. Beberapa  waktu berselang, pasangan mencatatkan perkawinan itu secara resmi, di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Nganjuk.Dari pernikahan  Bagus Prabowo dan Mey Marlina  yang cukup bahagia ini, terlahir dua orang anak, berusia lima dan tiga tahun.
Namun, betapa terkejutnya Bagus Prabowo ketika mendengar khabar; ternyata Mey Marlina masih memiliki seorang suami yang sah dan belum bercerai. Bahkan dari suaminya ini, Mey memiliki empat orang anak. Pembawa khabar yang shahih ini, adalah Sugianto—orang tua Bagus Prabowo yang berkunjung ke rumah orang tua  Mey Marlina di Kabupaten Ngawi.
Terungkap; dengan bukti akta perkawinan yang diterbitkan Kantor Catatan Sipil Kabupaten Ngawi; Mey Marlina melakukan perkawinan secara nasrani dengan Denny Wijaya di sebuah Gereja di Kota Kabupaten Ngawi. Menurut keterangan, setelah terlahir anak hingga empat orang, perkawinan yang memang beda agama ini goncang.
“Mereka memang kemudian berpisah, namun belum ada perceraian. Empat orang anak kemudia di titip ke keluarga , dan Mey Marlina berangkat bekerja di Jakarta,” ungkap salah seorang keluarga Mey Marlina seperti ditirukan Sugianto. Dengan khabar tersebut, keluarga Bagus Prabowo dan Mey Marlina yang semula tampak bahagia, menjadi goncang layaknya ditimpa prahara yang dahsyat. Bahkan kemudian pasangan ini “pisah ranjang” sepakat hubungan tersebut harus diakhiri dengan perceraian. Namun, sebelum perceraian itu terlaksana, Bagus Prabowo melihat sendiri Mey Marlina telah menjalin hubungan dengan ST, seorang pengusaha asal Bojonegoro-Jawa Timur. Ketika Bagus Prabowo mengusut; Mey Marlina mengakui telah beberapa kali “kencan” dengan ST bahkan dari setiap “kencan”  tersebut, senantiasa juga berlanjut ke hubungan intim. Memicu Bagus Prabowo, untuk memerkarakan Mey Marlina, istrinya. Terlebih setelah  menemui ST dan memberi tahukan status sebenarnya  Mey Marlina yang masih sah sebagai istrinya,  ST justru  menyatakan; pihaknya berani melangkah menjalin hubungan yang demikian jauh, karena Mey Marlina mengaku telah resmi bercerai.
Rep : Nganjuk (SI Online) - Muhammad Halwan / dbs, Jumat, 25/04/2014 20:39:41
***  MUHASABAH*** 
Mulut dan kemaluan paling banyak memasukkan ke neraka
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahiih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832. Di dalam satu riwayat; Beliau menjawab, “Dua lobang yaitu mulut dan farji”]/cintakajiansunnah.
Ketika seorang wanita muslimah nikah dengan orang Kristen atau lelaki yang bukan Islam maka tidak sah. Karena wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir, menurut Al-Qur’an.
لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
Mereka (wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka (wanita muslimah). (QS Al-Mumtahanah/60:10).
Perkawinan yang tidak halal maka hubungan suami isteri yang dilakukannya tetap tidak halal. Betapa berat tanggung jawabnya, setiap saat hanya menambah dosa.
Menjamin mulut dan farji
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ ))
“Barangsiapa menjamin untukku antara dua rahangnya (yaitu mulutnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluannya) maka aku jamin baginya surga. (HR Al-Bukhari).
Menjaga mulut di antaranya adalah menjaga dari berbicara yang dilarang dan dari makan yang haram. Berdusta, makan haram, dan aneka hal yang haram dilakukan oleh mulut haruslah dijauhi. Sedangkan menjaga kemaluan mencakup segala yang dilarang yang berkaitan dengan kemaluan, dari masalah larangan zina, mengumbar aurat, dengan aneka rangkaiannya, dan larangan penyimpangan seksual seperti homoseks, lesbian dan sebagainya.
Bahkan menjaga kemaluan dari kencing yang tidak sesuai aturan syari’at pun wajib, karena orang disiksa dalam kubur gara-gara kencingnya, yakni tidak beres mencucinya ataupun tak mencuci cipratannya ke anggota badan atau pakaian. Demikian pula lantaran mulut tak dijaga, hingga melakukan namimah (memfitnah, bicara mengandung adu domba), mengakibatkan pelakunya ditimpa adzab kubur.
 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui dua buah kubur, baginda bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa, tetapi bukan karena melakukan dosa besar. Seorangnya disiksa karena dulunya dia suka membuat fitnah (namimah, bicara berisi adu domba) dan seorang lagi disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya.” Kemudian baginda meminta pelepah kurma lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu beliau menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: “Semoga pelepah ini akan meringankan siksanya, selagi ia belum kering.” (Muttafaq ‘alaih)

Continue Reading

Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh

Senin, 13 Oktober 2014 | 0 komentar

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".
Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita. Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas sudah punya pacar belum?"
Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Pemuda: “Amin”
Wahai Wanita, Jangan Salah Memandang Kehormatanmu

Wanita terhormat bukan karena karirnya yang begitu cemerlang. Hingga dia bisa mengalahkan pendapatan suaminya. Begitu mandiri, begitu disegani sampai-sampai mendominasi. Bahkan mampu merendahkan harga diri suami.

Kalau sudah begini, suami yang seharusnya menjadi pemimpin, menjadi pengikut di rumah sendiri. Kehilangan harga diri dan merasa tak dibutuhkan lagi. Pastinya, suami akan lari mencari kenyamanan lain dan mengakhiri pernikahan dengan perceraian.
Jadinya, anak yang seharusnya mendapatkan perhatian, kasih sayang dan kenyamanan kehilangan harapan akan keluarga yang menyenangkan. Mereka hanya terbiasa hidup bersama pengasuh yang selalu ada setiap waktu. Tanpa ayah yang member arah. Tanpa ibu yang melindungi
Jika ini yang terjadi, apakah kau bahagia dengan kehormatanmu itu?
TIDAK

Sungguh Allah menciptakan dirimu begitu terhormat dengan kelemahanmu sehingga Allah memberikan untukmu suami yang selalu senang saat kau meminta perlindungan. Suami yang sangat senang ketika kau menangis manja saat butuh penguatan. Suami yang begitu bangga saat kau sabar medidik dan membesarkan anak meski dalam keterbatasan. Menghibur anak-anak ketika mereka butuh sosok ibu yang memberi kesejukan.

Sungguh suamimu lebih bangga ketika kau menghormatinya dan menjalankan peranmu sebagai seorang wanita. Dan ketahuilah kehormatanmu sama sekali tak luntur meski kau selalu berada di rumah dengan penuh kesederhanaan. Tanpa polesan make up, tanpa karir cemerlang bahkan tanpa pendapatan. Kau tetap terhormat ketika kau menjalankan peranmu yang begitu mulia sebagai seorang istri terbaik bagi suami dan seorang ibu terhebat bagi anak-anakmu. Disanalah ada ridho dari suamimu, dan dibalik keridhoan itu ada syurga.

Barangsiapa di antara wanita yang meninggal dunia sedang suaminya ridha kepadanya, niscaya ia masuk syurga (HR. Muttafaqun Alaihi)
Continue Reading
 
Support : Creating Website Copyright © 2011. DAAR AL-ARQOM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger