HIDUP DALAM KEMULIAAN, DAN MATI SYAHID-DIJALANNYA

untuk Sahabatku yang Sholih.

Rabu, 15 Oktober 2014 | 0 komentar

Imam Syafi'i berkata:
"Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman-baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat
mudah sekali"

Sahabat fillah, luangkanlah waktu sejenak untuk
membaca hadits yang mulia berikut ini...
Diriwayatkan bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk ke dalam
Surga, lalu mereka tidak menemukan Sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di
dunia.
Mereka bertanya tentang Sahabat mereka kepada Allah:
"Yaa Rabb...
Kami tidak melihat Sahabat-sahabay kami yang sewaktu di dunia shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami?
"Maka Allah berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat-sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya
sebesar zarrah."
(HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
"Perbanyaklah Sahabat-sahabay mu'minmu, karena
mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat"
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis:
"Jika kalian tidak menemukan aku nanti di
Surga bersama kalian, maka tolonglah bertanya kepada Allah tentang aku:
"Wahai Rabb Kami...
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang ENGKAU. Maka masukkanlah dia bersama kami di surga-Mu"
Yaa Rabb...
ْAku Memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah
kepadaku
Sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk
Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di Akhirat dengan-Mu...
ﺁﻣِﻴْﻦ ﻳَﺎ ﻣُﺠِﻴْﺐَ ﺍﻟﺴَّﺎﺋِﻠِﻴْﻦَ
Semoga kita bisa mencari dan bersahabat dengan orang-orang sholeh.
Continue Reading

PUISI BJ HABIBIE UNTUK ISTRINYA, AINUN **

| 0 komentar

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. ..
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, ...
dan kematian adalah sesuatu yang pasti ...
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu ....
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, ..
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi ....
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang ...
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, ..
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada, ...
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini ...
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, ..
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik ..
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini ...
Selamat jalan, ..
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, ...
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada ...
selamat jalan sayang, ..
cahaya mataku, penyejuk jiwaku, ...
selamat jalan, ...
calon bidadari surgaku ...

- HABIBIE -
Continue Reading

Bahaya Lisan

| 0 komentar

Abdullah ibn Mas‘ud mengungkapkan, “Wahai lisan, ucapkanlah yang baik-baik, niscaya kamu akan beruntung! Diamlah dari mengucapkan yang buruk-buruk, niscaya kamu akan selamat sebelum menyesal!”
Bicara memang gampang, tapi sering kali kita tidak memikirkan efek dari lisan kita. Dalam kitabnya Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn, Imam Al-Ghazali menetapkan banyak bicara yang merupakan “buah perbuatan” lisan sebagai racun pertama hati, yang menyebabkan manusia jauh dari cahaya Ilahi.
Lisan seseorang adalah cerminan dari baik dan buruk dan cerminan kualitas iman seseorang. Nabi Saw. bersabda,
“Tidak akan lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya, sehingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga apabila tetangganya tidak merasa aman dari kejahatan lisannya.” (HR Ahmad).


Lisan yang dihiasi pancaran iman dan akal yang sempurna akan selalu berzikir, beristighfar, dan mengucapkan hal-hal terpuji. Adapun lisan yang tidak dihiasai pancaran iman hanya akan melakukan hal-hal yang biasa dikenal dengan istilah bahaya lisan. Paling tidak, ada 5 bahaya lisan berikut ini yang perlu kita waspadai.

1. Dusta
Jujur itu disenangi oleh Allah, dan termasuk ciri orang beriman. Sebaliknya, dusta itu sangat dimurkai oleh Allah, dan termasuk ciri orang munafik. Rasulullah Saw. menyerukan kepada umatnya agar senantiasa membiasakan berkata jujur dan menjauhi ucapan dusta. Dalam sebuah hadis dikatakan,
“Hendaklah kamu berkata jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu akan membawamu pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan membawamu ke surge. Seseorang tidak henti-hentinya berkata jujur dan membiasakan kejujuran sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Jauhilah olehmu perkataan dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan membawamu pada durhaka, dan sesungguhnya durhaka itu akan membawamu ke neraka. Seseorang tidak henti-hentinya berdusta dan membiasakan dusta sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muslim).
Nabi menganjurkan umatnya untuk selalu berkata jujur karena kejujuran merupakan akhlak mulia yang akan mengarahkan seseorang kepada kebaikan, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam hadis lain, “Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebajikan.” Kebajikan adalah segala sesuatu yang meliputi makna kebaikan, ketaatan kepada Allah, dan berbuat baik kepada sesama.
Seorang mukmin yang hatinya senantiasa terkoneksi dengan Allah, tidak akan membiarkan lisannya berkata-kata tanpa batas, karena ia sadar bahwa setiap kata yang terucap dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Swt. kelak di hari kemudian. Berdusta adalah sesuatu yang tak mungkin terlontar dari mulut seorang mukmin.
Ali ibn Abu Thalib berkata: “Dosa paling besar di sisi Allah adalah kedustaan, dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan pada hari kiamat.”
Jangan meremehkan dosa dari berkata dusta, sebab meski kata-kata itu sepele, bahaya dusta sungguh bisa menggelincirkan manusia dari jalan Allah. Bukankah manusia itu terpeleset karena sesuatu yang sepele? Dan perkataan dusta paling bahaya adalah berdusta atas nama Rasulullah Saw. Dikatakan dalam sebuah hadits, “Barang siapa berdusta dengan membawa-bawa namaku, maka bersiap-siaplah untuk menduduki tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari).
Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapatkan dua kali kerugian. Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapatkan dosa dari perbuatan tercela ini. Kedua, jika kebohongannya diketahui orang lain, mereka akan kehilangan kepercayaan. Bahkan, kepadanya akan disematkan predikat pendusta atau pembohong.
Orang yang berkata jujur dan tidak suka berbohong, secara psikologis tidak punya beban berat dalam hidupnya. Karenanya, hatinya senantiasa merasa tenteram dan damai. Sebaliknya, orang yang biasa berdusta, hidupnya menjadi tidak tenang dan dunia terasa sempit. Ia akan senantiasa merasa dihantui oleh perasaannya sendiri, karena ada perasaan khawatir kebohongannya diketahui orang lain.

2. Berburuk sangka (sû’uzhzhan)
Ali ibn Abu Thalib berkata, “Buruk sangka melayukan hati, mencurigai orang yang terpercaya, menjadikan asing kawan yang ramah, dan merusak kecintaan saudara.”
Alangkah tenteramnya hati yang tak mudah berburuk sangka. Jangan biarkan hal-hal yang remeh dan sepele, yang tak ada manfaatnya, mengotori, menyempitkan dan merusak kebersihan hati kita. Saat hati menyimpan prasangka kepada orang lain, lisanlah yang mengeluarkan kata-kata penuh sangkaan. Tidak ada buruk sangka kepada seseorang, jika lisan tak pernah berbicara sesuatu yang penuh prasangka.
Lisan yang terbiasa melontarkan perkataan-perkataan penuh prasangka(sû’uzhzhan) dapat membuat hati menjadi busuk, karena apa pun yang kita sangka akan mempengaruhi cara kita berpikir, cara kita bersikap, dan cara kita mengambil keputusan. Berbahagialah orang-orang yang pandai berbaik sangka. Hati-hatilah dari prasangka karena prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta.
Allah Swt. berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurât [49]: 12).
Imam Al-Ghazali berkata dalam Ihyâ ‘Ulûmuddîn:
“Ketahuilah bahwa prasangka buruk (sû’uzhzhan) adalah haram seperti halnya ucapan yang buruk. Sebagaimana haram membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain, maka tidak boleh juga membicarakannya kepada diri (hati), lalu kita berprasangka buruk terhadap saudara sendiri. Jangan memiliki keyakinan hati terhadap orang lain dengan keburukan. Apa yang terlintas di dalam hati dimaafkan, bahkan keraguan juga. Yang dilarang adalah berprasangka, dan prasangka adalah kata lain dari sesuatu yang dijadikan sandaran yang hati condong kepadanya.”
Continue Reading

Ketika aku jatuh cinta

| 0 komentar

Cinta adalah sebuah Ni'mat, tapi jika di salahgunakan cinta bisa menjadi Niqmah (adzab). Tidak ada makhluq yang patut kita cintai lebih dari diri kita melebihi al-Musthafa, Shallallahu 'Alaih Wa Sallam.
Banyak anak-anak muda yang teracuni oleh pemikiran-pemikiran yang ada di media elektronik, memberi suguhan agar mereka berkorban demi cinta walaupun pahit dan penuh rintangan, mengajarkan agar menjadi sang Pahlawan Cinta, sehingga para pemuda-pemudi melakukan apa yang mereka lihat dalam kehidupannya meskipun harus melakukan hal-hal yang haram, yang membuat mereka celaka dan hina nanti di Akhirat..!!
Kita kecurian kiblat.. Orang-orang mengalihkan kita dari Sang Nabi SAW dan Sayyidatuna Zahro'.. Kalau memang yang namanya kebahagian, ketentraman, keindahan, keharmonisan, keberuntungan ada di dalam cinta sebelum menikah, maka Demi Allah, pasti Allah akan cantumkan dalam Ayat-Ayat Suci-Nya. Pasti akan keluar dari kalam mutiara Sang Nabi SAW, pasti di ajarkan kepada Sang Zahro'..!!! Tapi mengapa tidak ada dalam sejarah Islam cinta di luar nikah...? Apakah Islam salah dan tak mengerti cinta..? Kalau bukan dari Islam, lalu dari mana sumbernya cinta..?
Tanyakan dan lihat kepada orang yang telah mendahului kita, yang dulunya mengaku cinta adalah segala-galanya..!! Apa yang mereka dapatkan dalam hidupnya..? Apa kekuatan cinta mereka kekal dan abadi..?
Laa.. Laa.. Laa.. Wa alf, laa.. Wallah..!! Tidak, Demi Allah...!!!
Allah menciptakan manusia dan Allah lebih tahu akan tentang cinta yang ada dalam hati manusia. Allah juga tahu bagaimana cara menaburkan benih-benih cinta agar tetap abadi.
Jangan sekali-kali mengkiaskan cinta anda dengan apa yang ada di dunia Film, karena Film atau televisi memeliki sutradara yang mengatur dari awal sampai akhir dan telah di tentukan akhir dari cerita cinta tersebut. Tapi, kita siapa, yang bisa menjamin bahwa cinta akan membawa keabadian dan kebahagian..? Itu hanya fatamorgana yang mampu memberikan ketenangan sebentar saja, tapi setelah itu hampa yang terasa dan mengakibatkan penyeselan..!
Cinta di dunia ini tidak akan bertambah tapi akan berkurang. Berapa banyak orang yang mengaku "cinta mati" atau "cinta hidup" atau apa saja anda menamakannya, tapi mengapa setelah memilikinya terkadang dan banyak seorang wanita mendapat tamparan, hinaan bahkan di campakkan oleh yang dulu mengaku cinta..! Mengaku dia adalah jantung hatinya.. Dia adalah nyawanya.. Dia adalah kelopak matanya.. Dia adalah kehidupannya.. Lalu, kemana itu semua..? Kemana semua rasa yang dulunya ada..? Mana janji-janji manis cintanya..? Mana..? Mana..? Dan mana..? Apakah cinta hanya tinggal cerita...??
Subhanallaaah...!!! Maha Benar Engkau, Yaa Allah...!!
Setan terlalu pintar sehingga nafsu di bungkus sedemikian rupa dan di berinya nama "cinta" lalu di suguhkan pada para pemuda-pemudi. Kalau memang benar itu cinta, mengapa harus membawanya pada Neraka..? Ketahuilah, cinta yang murni lagi halal pasti membawa anda ke Syurga-Nya...! Telitilah cinta yang ada dalam hati anda..!!
Berapa banyak atas nama cinta telah membawa para pemuda & pemudi terjerumus dalam perzinaan...!! Membawak kita untuk menentang, bahkan durhaka kepada orang tua. Ketika sudah di campakkan oleh orang yang di cintai, kemana anda akan lari...? Kemana...?! Coba pikir, kita akan lari kemana..?! Pasti lari kepada orang tua yang pasti mau menerima anda apa adanya..!!!
Hati-hati dan waspada pada cinta palsu..! Karena cinta palsu, datang dari hawa nafsu. Tanam benih-benih cinta pada ladang hati yang halal sesuai yang di ajarkan oleh Sang Nabi SAW. Sabarlah...!! Cinta amat mahal dan istimewa. Cinta mampu memberikan keajaiban jika tumbuh pada tempat yang tepat..!! Tidak ada yang mustahil dengan cinta yang suci. Sehina apapun anda tapi jika anda memiliki cinta yang suci ini, anda akan menjadi mulia..
Sebagaimana batang pohon Kurma, mampu menebus Syurga. Bukan hanya di tingkat pertama, kedua atau ketiga atau bahkan ke empat. Akan tetapi, mampu menembus tingkat ketujuh. Ke derajat yang di peroleh Para Nabi..!!
Sekotor apapun anda, sehina apapun anda, senajis apapun anda, ketika anda memiliki cinta yang suci juga halal, cinta yang telah Nabi SAW ajarkan, maka cinta itu dapat mensucikan anda dan akan merubah anda...!
Coba anda lihat anjing Ashabul Kahfi yang mendapat sebuah kemulyaan..!! Sebab, cinta mampu mengangkat derajat yang di dapatkan para orang-orang Shaleh. Bahkan Allah SWT mengabadikan cerita cinta agung tersebut dalam al-Qur'an, agar manusia tahu tentang derajat sebuah cinta. Berapa kali Allah mengulang kata-kata, "Wa Kalbuhum.." dalam surat al-Kahfi...?!!
Mudah-mudahan Allah menganugerahkan kepada kita cinta yang suci..
Mudah-mudahan kita mampu membedakan antara cinta dan hawa nafsu..
Wahai Dzat yang menumbuhkan benih-benih cinta, tumbuhkan benih-benih cintaku kepada Sang Nabi SAW serta kepada orang yang Engkau cintai juga kepada orang yang halal bagiku...
Berikanlah padaku sebuah "Dzauq" perasa yang mampu mengetahui cinta palsu dan hawa nafsu..
Yaa Allaah.. Berikanlah petunjuk perahu cintaku dalam mengarungi samudera asmara..
Yaa Allaaah.. Izinkan cintaku berlabuh dalam dermaga agama dalam keadaan selamat dari syaithon yang menjadi pembajak cinta dengan angan-angan fatamorgananya..
Dari dermaga, izinkan aku mengantarkan cintaku pada rumah orang yang halal bagiku..
Sehingga aku hidup dalam kebahagian cinta yang telah Engkau janjikan..
Bimbing aku,
Yaa Allah...
Yaa Allah....
Continue Reading

Mendakwahi Fir'aun Saja, Allah Perintahkan Berkata Lembut..

| 0 komentar

Alhamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Berlemah-lembut dan tidak berkata kasar salah satu akhlak mulia yang sangat diagungkan Islam. Ini akan membantu terciptanya suasana harmonis dalam masyarakat muslim. Apalagi bagi para dai dan pemberi nasihat, keduanya sangat membantu tugas mereka dalam mengajak kepada kebaikan dan menjauhi keburukan.

Sebaliknya sikap kasar, galak, suka mencela, dan mudah menyematkan gelar sesat terhadap objek dakwah (saudara yang akan disadarkan) malah akan menimbulkan penolakan dan perlawanan. Karenanya tepat sekali apa yang disabdakan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

مَا كَانَ الرِّفْقُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ, وَمَا كَانَ الْعُنْفُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Tidaklah lemah lembut dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah sikap keras dalam segala sesuatu kecuali dia akan merusaknya.” (HR Muslim)

Sikap lemah lembut, tutur kata santun, penuh adab, dan tanpa sikap kasar dan tanpa arogan merupakan hikmah dari sunnatullah dalam mencipta dan memerintah serta tuntutan dalam mengimani nama Allah Al-Rafiiq; artinya: Mahalembut, Mahabaik, dan Mahamenyertai.

Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ “

Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim)

Allah Ta’ala Mahalembut dalam perbuatan-Nya, yaitu ketika Dia menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan bertahap, sedikit demi sedikit sesuai dengan hikmah dan kelembutan-Nya. Padahal Dia mampu menciptakannya sekaligus, dalam waktu sekejap.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga Mahalembut dalam memerintah dan melarang. Dia tidak membebani hamba-Nya dengan beban-beban yang banyak secara sekaligus. Tapi, berangsur-angsur dari satu kondisi kepada kondisi yang berikutnya sehingga jiwa siap menanggungnya dan tertata emosinya. Hal itu seperti turunnya perintah puasa fardhu, pengharaman khamar, riba dan lainnya.

Berarti bahwa orang yang melakukan sesuatu dengan kelembutan dan tenang telah mengikuti sunnatulah dalam menciptakan alam semesta dan mengikuti petunjuk Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.

Perintah Berkata Lembut Mendakwahi Raja Thaghut ‘’Fir’aun’’

Al-Qur'an mengabadikan, saat Fir’aun sudah sampai pada puncak ketaghutan dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” maka Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkannya dan mendakwahinya seraya berpesan,

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى “

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)

Yakni dengan bahasa yang mudah dipahami, halus, lembut, dan penuh adab tanpan sikap kasar, arogan, dan intimidasi dalam berkata atau bertindak brutal. Semoga dengan perkataan yang lembut ini dia jadi ingat dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya sehinga dia melaksanakannya atau takut dengan apa yang membahayakannya sehingga dia meninggalkannya. Kemudian Allah menerangkan tentang ucapannya tersebut,

فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى () وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى “

Dan katakanlah (kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)" Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?".” (QS. Al-Naazi’aat: 18-19)

Itulah kalimat yang digunakan Musa dan Harun dalam mendakwahi Fir’aun, seorang thaghut yang kafir. Kenapa ada sebagian kaum muslimin yang mendakwahi dan menasihati kawannya dengan kalimat cela, mengkhawarijkan, menyesatkan, dan ungkapan-ungkapan buruk dan kasar lainnya? Apakah dia menginginkan mengeluarkan saudaranya dari keburukan ataukah sebaliknya, menginginkan keburukan tetap kukuh pada diri sahabatnya?

Berkatalah seorang shalih saat mendengar ayat ini, “Mahasuci Engkau wahai Rabb, apabila seperti ini sikap baik-Mu kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. Al-Naazi’aat: 24)

Maka bagaimana sikap baik-Mu kepada hamba yang mengucapkan, “Mahasuci Engkau Wahai Tuhanku yang Maha Tinggi.”

Jika ini adalah kelemahlembutanmu kepada kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38)

Lalu bagaimana kelemahlembutan-Mu terhadap hamba yang masih berucap Laa Ilaaha Illallaah (Tiada tuhan berhak disembah kecuali Allah)." Maka wahai para muwahhid, berlemah lembutlah dan berkatalah yang baik serta jangan gampang menyematkan gelar-gelar sesat kepada saudaramu yang tergelincir. Wallahu Ta’ala A’lam.
Continue Reading

Pria Jelek Biasanya Lebih Setia

| 0 komentar


Ini kabar gembira buat laki-laki bertampang pas-pasan, jelek atau mungkin merasa dirinya tidak tampan. Sebuah penelitian yang dilakukan University of Tennesse mengungkapkan fakta : laki-laki bertampang biasa jauh lebih setia dengan pasangannya. Kalau anda yang termasuk dalam kategori laki-laki seperti itu, tidak perlu berkecil hati. Harapan untuk mendapat istri atau pacar cantik dan keren, terbentang lebar. Penelitian tersebut juga menyarankan, tak perlu heran melihat begitu banyak wanita cantik menggandeng pria bertampang biasa, bahkan cenderung jelek. Pasangan ini ternyata malah justru bisa lebih bahagia dibanding wanita yang menikah dengan pasangan yang ganteng. Sebaliknya, laki-laki lebih bangga jika mengandeng perempuan cantik.
Para responden dalam penelitian yang dilakukan oleh para ahli di University of Tennese tersebut mengatakan, dalam perkawinan, para pria memang mendapatkan manfaat besar karena memiliki istri cantik. Sementara itu para istri mengaku memang mencari pasangan yang mendukungnya, meski kurang tampan.
Para ahli psikologi yang turut ambil bagian dalam proyek penelitian ini melibatkan 82 pasangan suami istri yang baru menikah enam bulan dan sebelumnya berpacaran selama tiga tahun. Usia para responden sekitar pertengahan dua puluhan. Secara umum disimpulkan pasangan suami istri bersikap positif dan lebih adem ayem jika sang istri berwajah cantik. Sebaliknya wanita yang bersuamikan pria tampan justru kurang kompak satu sama lain. Tidak demikian, jika para laki-laki tampan menikahi wanita yang wajahnya standar. Mereka umumnya merasa kurang puas dengan perkawinannya. Tak heran jika dalam hal ini, berlaku pendapat rumput tetangga selalu lebih hijau.
“Pria memang lebih tertarik pada wanita yang cantik dan menarik, sedangkan wanita biasanya memilih pria yang tubuhnya lebih tinggi atau bergaji besar”, kata Dan Ariely, ahli manajemen dari Media Arts and Sciences an Sloan School of Management. Dalam perkawinan, pasangan yang sepadan bukanlah semata saat seseorang wanita cantik berjodoh dengan pria tampan. Namun lebih dari itu, sepadan berarti saat dua orang saling melengkapi.
Jadi, kelak kalau wajah yang tidak terlalu tampan laku keras, rasanya tulisan ini cukup menjelaskan mengapa bisa demikian.

Sumber : iwanagussugeng.wordpress.com
Continue Reading

Kisah nyata, Wanita bersuami dua dan satu selingkuhan

Selasa, 14 Oktober 2014 | 0 komentar


MasyaAllah,. Ini baru pertama kali terjadi, Pengadilan Negeri Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur menggelar perkara poliandri. Seorang wanita secara sah bersuami dua orang, hingga terlahir enam orang anak—empat anak dari suami  pertama dan dua anak lagi dari suami lainnya. Itu-pun, wanita ini masih menjalin cinta kasih secara gelap dengan lelaki lain lagi.  Adalah Bagus Putro Prabowo (30 tahun), warga Kecamatan Warujayeng Kabupaten Nganjuk yang membawa perkara ini ke pengadilan negeri setempat. Ia, melaporkan Mey Marlina (35 tahun), istrinya sendiri yang asli Kabupaten Ngawi, ke Kepolisian Resort Nganjuk. Perkara yang baru pertama terjadi, cukup rumit. Untuk pemberkasan perkara, Polisi hingga memerlukan waktu lebih dari delapan bulan, baru berhasil melimpahkan ke Kejaksaan.
Sekira enam tahun lalu (di tahun 2008),  Bagus Prabowo ketika itu bekerja di Jakarta bertemu dan berkenalan dengan Mey Marlina. Ketika itu, Mey Marlina mengaku masih lajang. Singkat kata, mereka saling jatuh cinta;  untuk melindungi jalinan cinta kasih agar tidak terperosok ke perzinahan, mereka sepakat untuk diikat dengan perkawinan secara siri. Beberapa  waktu berselang, pasangan mencatatkan perkawinan itu secara resmi, di sebuah Kantor Urusan Agama (KUA) di Kabupaten Nganjuk.Dari pernikahan  Bagus Prabowo dan Mey Marlina  yang cukup bahagia ini, terlahir dua orang anak, berusia lima dan tiga tahun.
Namun, betapa terkejutnya Bagus Prabowo ketika mendengar khabar; ternyata Mey Marlina masih memiliki seorang suami yang sah dan belum bercerai. Bahkan dari suaminya ini, Mey memiliki empat orang anak. Pembawa khabar yang shahih ini, adalah Sugianto—orang tua Bagus Prabowo yang berkunjung ke rumah orang tua  Mey Marlina di Kabupaten Ngawi.
Terungkap; dengan bukti akta perkawinan yang diterbitkan Kantor Catatan Sipil Kabupaten Ngawi; Mey Marlina melakukan perkawinan secara nasrani dengan Denny Wijaya di sebuah Gereja di Kota Kabupaten Ngawi. Menurut keterangan, setelah terlahir anak hingga empat orang, perkawinan yang memang beda agama ini goncang.
“Mereka memang kemudian berpisah, namun belum ada perceraian. Empat orang anak kemudia di titip ke keluarga , dan Mey Marlina berangkat bekerja di Jakarta,” ungkap salah seorang keluarga Mey Marlina seperti ditirukan Sugianto. Dengan khabar tersebut, keluarga Bagus Prabowo dan Mey Marlina yang semula tampak bahagia, menjadi goncang layaknya ditimpa prahara yang dahsyat. Bahkan kemudian pasangan ini “pisah ranjang” sepakat hubungan tersebut harus diakhiri dengan perceraian. Namun, sebelum perceraian itu terlaksana, Bagus Prabowo melihat sendiri Mey Marlina telah menjalin hubungan dengan ST, seorang pengusaha asal Bojonegoro-Jawa Timur. Ketika Bagus Prabowo mengusut; Mey Marlina mengakui telah beberapa kali “kencan” dengan ST bahkan dari setiap “kencan”  tersebut, senantiasa juga berlanjut ke hubungan intim. Memicu Bagus Prabowo, untuk memerkarakan Mey Marlina, istrinya. Terlebih setelah  menemui ST dan memberi tahukan status sebenarnya  Mey Marlina yang masih sah sebagai istrinya,  ST justru  menyatakan; pihaknya berani melangkah menjalin hubungan yang demikian jauh, karena Mey Marlina mengaku telah resmi bercerai.
Rep : Nganjuk (SI Online) - Muhammad Halwan / dbs, Jumat, 25/04/2014 20:39:41
***  MUHASABAH*** 
Mulut dan kemaluan paling banyak memasukkan ke neraka
عن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ اْلجَنَّةَ؟ قَالَ: تَقْوَى اللهِ وَ حُسْنُ اْلخُلُقِ وَ سُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ؟ قَالَ: اْلفَمُ وَ اْلفَرَجُ
Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu berkata, Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sesuatu apakah yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam surga?. Beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Beliau juga ditanya tentang sesuatu apakan yang terbanyak yang dapat memasukkan manusia ke dalam neraka?. Beliau menjawab, “Mulut dan farji (kemaluan)”. [HR at-Turmudziy: 2004, Ibnu Majah: 4246 dan Ahmad: II/ 291, 392, 442. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Hasan sanadnya, lihat Shahiih Sunan at-Turmudziy: 1630, Shahih Sunan Ibni Majah: 3424, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah: 977 dan Misykah al-Mashobih: 4832. Di dalam satu riwayat; Beliau menjawab, “Dua lobang yaitu mulut dan farji”]/cintakajiansunnah.
Ketika seorang wanita muslimah nikah dengan orang Kristen atau lelaki yang bukan Islam maka tidak sah. Karena wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki kafir, menurut Al-Qur’an.
لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ
Mereka (wanita muslimah) tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka (wanita muslimah). (QS Al-Mumtahanah/60:10).
Perkawinan yang tidak halal maka hubungan suami isteri yang dilakukannya tetap tidak halal. Betapa berat tanggung jawabnya, setiap saat hanya menambah dosa.
Menjamin mulut dan farji
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(( مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ ))
“Barangsiapa menjamin untukku antara dua rahangnya (yaitu mulutnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluannya) maka aku jamin baginya surga. (HR Al-Bukhari).
Menjaga mulut di antaranya adalah menjaga dari berbicara yang dilarang dan dari makan yang haram. Berdusta, makan haram, dan aneka hal yang haram dilakukan oleh mulut haruslah dijauhi. Sedangkan menjaga kemaluan mencakup segala yang dilarang yang berkaitan dengan kemaluan, dari masalah larangan zina, mengumbar aurat, dengan aneka rangkaiannya, dan larangan penyimpangan seksual seperti homoseks, lesbian dan sebagainya.
Bahkan menjaga kemaluan dari kencing yang tidak sesuai aturan syari’at pun wajib, karena orang disiksa dalam kubur gara-gara kencingnya, yakni tidak beres mencucinya ataupun tak mencuci cipratannya ke anggota badan atau pakaian. Demikian pula lantaran mulut tak dijaga, hingga melakukan namimah (memfitnah, bicara mengandung adu domba), mengakibatkan pelakunya ditimpa adzab kubur.
 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ قَالَ فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا ثُمَّ قَالَ لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
 Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui dua buah kubur, baginda bersabda: “Ingatlah, sesungguhnya dua mayat ini sedang disiksa, tetapi bukan karena melakukan dosa besar. Seorangnya disiksa karena dulunya dia suka membuat fitnah (namimah, bicara berisi adu domba) dan seorang lagi disiksa karena tidak membersihkan dirinya dari air kencingnya.” Kemudian baginda meminta pelepah kurma lalu dibelahnya menjadi dua. Setelah itu beliau menanam salah satunya pada kubur yang pertama dan yang satu lagi pada kubur yang kedua sambil bersabda: “Semoga pelepah ini akan meringankan siksanya, selagi ia belum kering.” (Muttafaq ‘alaih)

Continue Reading

Seorang wanita gaul bertanya pada seorang pemuda yang soleh

Senin, 13 Oktober 2014 | 0 komentar

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".
Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita. Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas sudah punya pacar belum?"
Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Pemuda: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Pemuda: “Amin”
Wahai Wanita, Jangan Salah Memandang Kehormatanmu

Wanita terhormat bukan karena karirnya yang begitu cemerlang. Hingga dia bisa mengalahkan pendapatan suaminya. Begitu mandiri, begitu disegani sampai-sampai mendominasi. Bahkan mampu merendahkan harga diri suami.

Kalau sudah begini, suami yang seharusnya menjadi pemimpin, menjadi pengikut di rumah sendiri. Kehilangan harga diri dan merasa tak dibutuhkan lagi. Pastinya, suami akan lari mencari kenyamanan lain dan mengakhiri pernikahan dengan perceraian.
Jadinya, anak yang seharusnya mendapatkan perhatian, kasih sayang dan kenyamanan kehilangan harapan akan keluarga yang menyenangkan. Mereka hanya terbiasa hidup bersama pengasuh yang selalu ada setiap waktu. Tanpa ayah yang member arah. Tanpa ibu yang melindungi
Jika ini yang terjadi, apakah kau bahagia dengan kehormatanmu itu?
TIDAK

Sungguh Allah menciptakan dirimu begitu terhormat dengan kelemahanmu sehingga Allah memberikan untukmu suami yang selalu senang saat kau meminta perlindungan. Suami yang sangat senang ketika kau menangis manja saat butuh penguatan. Suami yang begitu bangga saat kau sabar medidik dan membesarkan anak meski dalam keterbatasan. Menghibur anak-anak ketika mereka butuh sosok ibu yang memberi kesejukan.

Sungguh suamimu lebih bangga ketika kau menghormatinya dan menjalankan peranmu sebagai seorang wanita. Dan ketahuilah kehormatanmu sama sekali tak luntur meski kau selalu berada di rumah dengan penuh kesederhanaan. Tanpa polesan make up, tanpa karir cemerlang bahkan tanpa pendapatan. Kau tetap terhormat ketika kau menjalankan peranmu yang begitu mulia sebagai seorang istri terbaik bagi suami dan seorang ibu terhebat bagi anak-anakmu. Disanalah ada ridho dari suamimu, dan dibalik keridhoan itu ada syurga.

Barangsiapa di antara wanita yang meninggal dunia sedang suaminya ridha kepadanya, niscaya ia masuk syurga (HR. Muttafaqun Alaihi)
Continue Reading

3 Hari Bersama Calon Penghuni Surga

Senin, 11 Agustus 2014 | 0 komentar

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, Anas bin Malik menceritakan sebuah kejadian yang dialaminya pada sebuah majelis bersama Rusulullah SAW.
Anas bercerita, “Pada suatu hari kamu duduk bersama Rasulullah SAW, kemudian beliau bersabda, “Sebentar lagi akan muncul dihadapan kalian seorang laki-laki penghuni surga.” Tiba-tiba muncullah laki-laki Anshar yang janggutnya basah dengan air wudhunya. Dia mengikat kedua sandalnya pada tangan sebelah kiri.”
Esok harinya, Rasulullah SAW. berkata begitu juga, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga.” Dan munculah laki-laki yang sama. Begitulah Nabi mengulang sampai tiga kali.
Ketika majelis Rasulullah selesai, Abdullah bin Amr bin Al-Ash r.a. mencoba mengikuti seorang lelaki yang disebut oleh Nabi sebagai penghuni surga itu. Kemudian dia berkata kepadanya dia berkata kepadanya, “Saya ini bertengkar dengan ayah saya, dan saya berjanji kepada ayah saya bahwa selama tiga hari saya tidak akan menemuinya. Maukah kamu memberi tempat pondokan buat saya selama hari-hari itu ?”
Abdullah mengikuti orang itu ke rumahnya, dan tidurlah Abdullah di rumah orang itu selama tiga malam. Selama itu Abdullah ingin menyaksikan ibadah apa gerangan yang dilakukan oleh orang itu yang disebut oleh Rasulullah SAW sebagai penghuni surga. Tetapi selama itu pula dia tidak menyaksikan sesuatu yang istimewa di dalam ibadahnya.
Kata Abdullah, “Setelah lewat tiga hari aku tidak melihat amalannya yang istimewa, bahkan aku hampir-hampir meremehkan amalannya, lalu aku berkata, Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak bertengkar dengan ayahku, dan tidak juga aku menjauhinya. Tetapi aku mendengar Rasulullah SAW. berkata tentang dirimu sampai tiga kali, “Akan datang seorang darimu sebagai penghuni surga.” Aku ingin memperhatikan amalanmu supaya aku dapat menirunya. Mudah-mudahan dengan amal yang sama aku mencapai kedudukanmu.”
Lalu orang itu berkata, “Yang aku amalkan tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan”. Ketika aku mau berpaling, kata Abdullah, dia memanggil lagi, kemudian berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih daripada apa yang engkau saksikan itu. Hanya saja aku tidak pernah menyimpan pada diriku niat yang buruk / prasangka buruk terhadap kaum Muslimin, dan aku tidak pernah menyimpan rasa dengki kepada mereka atas kebaikan yang diberikan Allah kepada mereka.”
Lalu Abdullah bin Amr berkata, “Beginilah bersihnya hatimu dari perasaan jelek dari kaum Muslimin, dan bersihnya hatimu dari perasaan dengki. Inilah tampaknya yang menyebabkan engkau sampai ke tempat yang terpuji itu. Inilah justru yang tidak pernah bisa kami lakukan.
Memberikan hati yang bersih, tidak menyimpan prasangka yang jelek terhadap kaum Muslim kelihatannya sederhana tetapi justru amal itulah yang seringkali sulit kita lakukan dalam kehidupan kebanyakan kita sehari-hari. Mungkin kita mampu berdiri shalat Tahajud di malam hari, sujud dan rukuk di hadapan Allah SWT, akan tetapi amat sulit bagi kita menghilangkan kedengkian kepada sesama kaum Muslimin. Hanya karena kita duga pahamnya berbeda dengan kita. Hanya karena kita pikir bahwa dia berasal dari golongan yang berbeda dengan kita. Atau hanya karena dia memperoleh kelebihan yang diberikan Allah, dan kelebihan itu tidak kita miliki. “Inilah justru yang tidak mampu kita lakukan, ” kata Abdullah bin Amr (Hayat Al-Shahabah, II, 520-521).
Pada halaman yang sama, Al-Kandahlawi menceritakan suatu hadis tentang sahabat Nabi yang bernama Abu Dujanah. Ketika Abu Dujanah sakit keras, sahabat yang lain berkunjung kepadanya.
Tetapi menakjubkan, walaupun wajahnya pucat pasi, Abu Dujanah tetap memancarkan cahayanya, bahkan pada akhir hayatnya. Kemudian sahabatnya bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan wajah Anda bersinar?” Abu Dujanah menjawab, “Ada amal yang tidak pernah kutinggalkan dalam hidup ini. Pertama, aku tidak pernah berbicara tentang sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Kedua, aku selalu mengahadapi sesama kaum Muslim dengan hati yang bersih, yang oleh Al-Quran disebut qalbun salim”.
Al-Quran menyebut kata qalbun salim ini ketika Allah SWT. berfirman tentang suatu hari di hari kiamat, ketika tidak ada orang yang selamat dengan harta dan kekayaannya kecuali yang membawa hati yang bersih. Pada hari itu tidak ada manfaatnya di hadapan Allah SWT, harta dan anak-anak kecuali orang yang datang dengan hati yang bersih (QS 26:88-89).
Di dalam Islam, Rasulullah SAW yang mulia sejak awal dakwahnya mengajarkan kepada kaum Muslimin untuk memperlakukan kaum Muslimin yang lain sebagai saudara-saudaranya. Al-Quran mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah menjalin persaudaraan dengan sesama kaum beriman lain. Al-Quran menggunakan kalimat yang disebut adat al-hasr, yaitu “innama” -artinya yang tidak sanggup memelihara persaudaraan itu tidak termasuk orang yang beriman.
Imam Al-Ghazali ketika menyebutkan ayat ini juga menegaskan bahwa orang yang beriman sajalah yang dapat memelihara persaudaraan dengan sesama kaum Muslim. Hanya yang beriman yang bisa menumbuhkan kasih sayang kepada kaum Muslim. Rasulullah SAW. menegaskan ayat ini dengan sabdanya : “Tidak beriman di antara kamu sebelum kamu mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.”
Rasulullah SAW yang mulia menyebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beriman ialah mempunyai kecintaan yang tulus terhadap kaum Muslimin. Dan dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW. bersabda : “Agama adalah kecintaan yang tulus.”
Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh As-Suyuthi dalam kitabnya, Ad-Durr Al-Mantsur. Ketika sampai pada ayat yang mengatakan bahwa Allah SWT menolak segolongan manusia dengan segolongan manusia yang lain, pada surah Al-Baqarah, As-Suyuthi meriwayatkan hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Setiap masa ada orang yang sangat dekat dengan Allah (yang oleh Rasulullah disebut ABDAL). Kalau salah seorang di antara mereka mati, maka Allah akan menggantikannya dengan orang lain. Begitulah orang itu selalu ada di tengah-tengah masyarakat.”
Rasulullah SAW mengatakan bahwa berkat kehadiran mereka Allah menyelamatkan suatu masyarakat dari bencana. Karena merekalah Allah SWT menurunkan hujan, karena merekalah Allah menumbuhkan tetanaman, dan karena merekalah Allah mengidupkan dan mematikan.
Hingga para sahabat waktu itu bertanya kepada Rasulullah, “Apa maksudnya karena merekalah Allah menghidupkan dan mematikan?”
Rasulullah SAW menjawab : “Kalau mereka berdoa agar Allah memanjangkan usia seseorang, maka Allah panjangkan usianya. Kalau mereka berdoa agar orang zalim itu binasa, maka Allah binasakan mereka”.
Kemudian Rasulullah bersabda : “Orang ini mencapai kedudukan yang tinggi bukan karena banyak shalatnya, bukan karena banyak puasanya, bukan pula karena banyaknya ibadah hajinya, tetapi karena dua hal : yaitu memiliki sifat kedermawanan dan kecintaan yang tulus kepada sesama kaum Muslimin.” Wallahualam bissawab
Continue Reading

PUJIAN & SANJUNGAN = KEBINASAAN

| 0 komentar

Jika kita memiliki prestasi yang baik di hadapan manusia atau kelebihan dan keunggulan lain di mata mereka. Baik itu di bidang ubudiyah, ilmu pengetahuan, kelebihan fisik, ketajaman akal pikiran, kemudahan dalam usaha dan bisnis, kelancaran dalam komunikasi dan yang seirama dengan itu.

Maka pada saat itu, pujilah Allah swt dan agungkan Dia dan kembalikan segala kemudahan, keluasan dan berbagai warna anugerah kepada-Nya. Jangan kita biarkan setan memperdaya kita lewat lisan orang-orang di sekitar kita. Dengan pujian, sanjungan, dan julukan menggiurkan yang dialamatkan kepada kita.

Nafi’ pernah menceritakan bahwa ada seseorang datang menemui Ibnu Umar ra seraya berkata, “Ya khairannas wa ya ibna khairinnas”, wahai manusia terbaik dan putera manusia terbaik.”

Ibnu Umar berkata:

مَا أَنَا بِخَيْرِ النَّاسِ وَلاَ ابْنِ خَيْرِ النَّاسِ, وَلَكِنِّيْ عَبْدٌ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ. أَرْجُو اللَّهَ تَعَالَى وَأَخَافُهُ. وَاللَّهِ,

لَنْ تَزَالُوا بِالرَّجُلِ حَتَّى تُهْلِكُوْهُ.

“Aku bukanlah orang terbaik dari manusia dan bukan pula putera manusia terbaik. Tetapi aku hanyalah salah seorang dari hamba Allah swt, yang mengharap kucuran rahmat-Nya dan takut kepada azab-Nya. Demi Allah, tidaklah kalian terus menerus menyanjung seseorang sehingga kalian membinasakannya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Siswa teladan, mahasiswa berprestasi, anak cerdas dan santun, karyawan rendah hati, ulama panutan, ustadz favorit, pendidik yang membumi, pejabat yang merakyat, pemain terbaik, mertua pilihan, orang tua kebanggaan, menantu idola, Yusuf-nya zaman ini, pengusaha sukses, petani jujur dan seterusnya.

Itu sekadar contoh dari pujian, sanjungan dan gelar yang mungkin pernah orang sematkan kepada kita. Yang apabila kita salah dalam mensikapinya, akan menjadi bencana bagi kita. Di dunia kini. Terlebih di akherat sana. Dan sejarah telah mencatat, bahwa tidak sedikit orang yang terpuruk dengan segudang prestasi yang pernah diraihnya lantaran tersanjung dengan pujian dan julukan baik yang disematkan orang kepadanya.

Bila kita meraih sebuah kesuksesan, berada di puncak prestasi, kemenangan datang menyapa kita, maka kita kembalikan seluruhnya kepada Allah swt. Kita bertasbih memuji kebesaran-Nya dan beristighfar kepada-Nya.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.” An Nashr: 1-3.

Saudaraku..
Sungguh kita telah terpedaya, jika kita terlena dengan pujian dan sanjungan dari manusia. Yang lebih buruk dari itu adalah jika kita beribadah, beraktifitas, belajar, berjuang, bekerja dan beramal baik, hanya untuk mendapat pujian, sanjungan, tempat dan meraih penghargaan dari manusia. Wal ‘iyadzubillah.

Dan yang terpenting, kita tak perlu sungkan untuk mengingatkan orang yang biasa memuji kebaikan kita di hadapan kita. Sebab hal itu merupakan awal dari kebinasaan kita dan juga dirinya sendiri.

Ibnu Umar setelah dipuji setinggi langit, dia justru menyadarkan orang yang memujinya perihal hakikat dirinya sebagai seorang abdi Allah. Yang berusaha untuk selalu mendapat kucuran rahmat dan menghadirkan neraka di depan mata.

Rasulullah saw mengajari kita do’a, saat kita mendapat pujian dan sanjungan dari orang lain:

اَللَّهُمَّ لاَ تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ، وَاغْفِرْلِيْ مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ

“Ya Allah, janganlah Engkau hukum diriku karena apa yang mereka katakan, ampunilah aku terhadap apa yang tidak mereka ketahui (tentang diriku), dan jadikanlah diriku lebih baik daripada apa yang mereka kira.” H.R; Bukhari dalam kitab “Al adabul mufrad”.

Sedangkan dalam riwayat Baihaqi, disebutkan:

اَللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى

مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari sangkaan mereka, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui tentang diriku, dan janganlah Engkau hukum diriku karena apa yang mereka katakan.”

Saudaraku..
Mari kita selalu membentengi diri kita dengan do’a dan munajat kepada-Nya. Dengan pertolongan-Nya kita menjadi kuat dalam kelemahan. Menjadi semangat dalam kelesuan. Menjadi sabar dalam ujian. Dan tentunya menjadi tak terlena dalam pujian dan tidak tersanjung dalam sanjungan.

Sudahkah kita hafal dan terbiasa membaca do’a di atas saat dipuji dan disanjung oleh orang lain?. Wallahu a’lam bishawab.

Continue Reading
 
Support : Creating Website Copyright © 2011. DAAR AL-ARQOM - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger